Senin, 30 Desember 2013

Pakai dana operasional wagub, Ahok tebus ijazah siswa tak mampu

 Jumat, 19 Juli 2013 13:09:09

Merdeka.com - Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terpaksa mengeluarkan dana operasional yang dimilikinya untuk membantu warga yang tidak mampu dalam hal pendidikan. Sebab, dia menilai banyak persoalan terkendala anggaran tidak merata dalam pendidikan untuk warga.

"Dari menjabat sejak Oktober lalu, saya sudah pakai dana operasional wakil gubernur hampir Rp 2 miliar. Duitnya saya pakai buat bantu warga," ujar Ahok di Balai Kota Jakarta, Jumat (19/7).

Dana tersebut digunakan bagi siswa tidak mampu di sekolah swasta yang tidak mendapatkan Kartu Jakarta Pintar (KJP). Selain itu, Ahok juga membantu siswa yang ijazah pendidikan masih tertahan di sekolah.

"Banyak yang belum tepat sasaran. Makanya saya harus bayarin. Makanya pake dana operasional," ucapnya.

Mantan anggota Komisi II DPR ini mengaku baru mendapat laporan adanya sekolah di Jakarta yang muridnya hanya dapat lima KJP. Padahal, di dekat sekolah tersebut ada sekolah yang isinya siswa mampu tetapi mendapatkan KJP.

"Padahal ada sekolah enggak jauh dari situ muridnya pada mampu tapi hampir semua siswa dapat KJP. Itu enggak benar. Kita lagi urus," tegasnya.

Untuk bulan ini saja, Ahok mengaku harus mengeluarkan dana operasionalnya hingga Rp 200 juta. Hal ini, karena banyak orang tua murid tidak dapat membiayai anaknya untuk melanjutkan pendidikan jenjang selanjutnya.

"Ini kepaksa dikeluarin karena banyak orang tua enggak bisa biayain anaknya nerusin sekolah. Ada yang dari SD ke SMP, sampe yang SMP masuk SMA," katanya.

KJP yang belum merata menyebabkan proses kenaikan di level pendidikan selalu menjadi masalah di tahun ajaran baru. Ahok mengaku menempatkan beberapa orang Dinas Pendidikan di setiap kelurahan dan kecamatan agar warga dapat langsung mengurus KJP.

Ini dilakukan untuk percepatan dan pengaturan distribusi KJP agar cepat dan tepat sasaran. "Kalau dimainin apa lagi dicuekin, SMS lapor ke saya. Nanti saya panggil itu orang dinas," katanya.



Opini : Terobosan yang baru dilakukan ini bermanfaat bagi siswa tidak mampu,dengan adanya KJP para siswa tidak mampu mendapatkan kesempatan untuk mendapat pendidikan yang lebih layak.Tapi dalam pelaksanaannya masih banyak yang salah sasaran,tapi hal tersebut sedang di benahi agar lebih baik lagi.


Senin, 02 Desember 2013

Tawuran Pelajar SMP, Satu Orang Tewas


Tawuran Pelajar SMP, Satu Orang Tewas
RABU, 20 NOVEMBER 2013 | 18:37 WIB

TEMPO.CO, Bogor - Tawuran pelajar SMP berujung fatal. Mohamad Mahdor, 15 tahun, siswa kelas 3 SMP Telaga Kausar, Desa Gunung Menyan, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, tewas karena menderita luka bacok akibat sabetan senjata tajam.

"Aksi tawuran antarpelajar-nya terjadi Selasa kemarin," kata Kepala Kepolisian Sektor Cibungbulang, Komisaris Rony Mardiyatun, Rabu, 20 November 2013.

Rony mengatakan, korban terluka pada bagian leher sebelah kanan. Sempat mendapat perawatan medis di klinik dekat rumahnya, Mahdor akhirnya tak tertolong. "Korban awalnya sudah dibawa pulang ke rumahnya, namun kita minta keluarga agar korban diotopsi terlebih dahulu di rumah sakit untuk awal penyelidikan kasus tersebut," katanya.

Tawuran bermula ketika korban bersama tujuh temannya tiba-tiba diserang oleh pelajar SMP sekolah lain di depan Kantor Desa Cibatok, Jalan Raya Cibatok, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Menurut Ronny, saat itu kelompok korban hendak pulang dengan berjalan kaki.

Berdasarkan informasi dan keterangan dari teman korban, penyerang terdiri dari tiga orang yang mengendarai sepeda motor. Si penumpang menggunakan celurit, langsung menyabet secara membabi-buta. Sabetan itu mengenai leher Mahdor yang langsung ambruk bersimbah darah.

Polisi langsung mengejar para penyerang yang belakangan diketahui berinisial AH (13), HA (13), dan ES (13). Ketiganya ditangkap pukul 19.30 di rumahnya masing-masing di Kampung Gunungmenyan, Desa Gunungmenyan, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. "Semuanya siswa SMP Pandu," kata Rony.

Untuk mempertangungjawabkan perbuatan mereka, ketiga pelajar yang menjadi pelaku pembacokan tersebut kini menjalani pemeriksaan intensif di Markas Polsek Cibungbulang. 


Opini : hal yang sangat memprihatinkan anak berumur 13 tahun sudah berani melakukan hal tersebut  ,tanpa rasa takut  dihukum atau bahkan i pidana.ini semua harus jadi perhatian banyak pihak ,seperti pihak sekolah dengan mengaakan penyuluhan atau himbauan agar siswa tidak melakkan hal seperti itu, pihak orang tua dengan mengawasi pergaulan anak-anaknya,dan pihak kepolisian dengan pengamanannya setiap aksi tawuran.mungkin jika semua pihak bekerja sama kejadian yang sama tiak terulang kembali.